HUJAN KEMARIN
Sebut saja Vena, yah, Franellia Lina Vestoria itu nama lengkapnya. Salah seorang siswi di salah satu SMA ternama di
Dan bukan hal yang luar biasa kalau dia banyak disukai sama cowok-cowok di sekolah. Tapi nggak tau kenapa, dia tu kaya anti sama makhluk yang namanya COWOK. Beribu cowok yang udah nyoba nembak, satupun nggak ada yang direspon, apa lagi diterima. Tapi dia itu supel, ramah dan baik banget sama siapa aja. Sumpah, anaknya asik banget. Ga heran dia itu terkenal di antero sekolah. Sempurna, cuma kata itu yang aku pikir pertama aku kenal dia. Tapi ternyata dibalik kesempurnaannya banyak cerita misterius yang tersimpan sangat rapat. Sebagai sahabat terdekatnya pun aku tak banyak tau soal kehidupan pribadinya. Karena setiap akan menanyakan soal itu, dia selalu mengalihkan pembicaraan. Dan akupun tak akan membicarakannya lagi.
“Ven, pulang yuuk. Males nih di kelas, sumpek!”, aku merengek mengajak Vena pulang, sambil menyedot jus alpukat yang aku beli di kantin tadi siang.
“Ntar ah
“Woy ! Diajak ngomong malah ngelamun, tuh jus lo jadi air terjun !” Vena membuyarkan lamunanku, dan ternyata jus ku tumpah. Ya ampun, kenapa bisa aku tak sadar. Dan ternyata itu tadi bukan mimpi, aku benar-benar mendengar Vena mengatakan kata-kata itu.
“Eh, iya Ven, sory, gue bener-bener kaget denger lo ngomong kaya gitu. Emang kenapa sih Ven lo ga mau pulang ??? Di rumah lo ada hantu, ato ada monster, mmm, kalo nggak nenk sihir ???? Kenapa Ven ??? “ dengan sepontan aku menanyakan hal konyol seperti itu padanya. Dan dia pun hanya tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaanku tadi. Memang, konyol banget.
“Lo tuh yang kenapa. Sarap neng ??? Masa’ iya dirumah gue ada kaya gitu. Negeri Dongeng kaliii.. “ balasan Vena atas pertanyaanku yang memang nggak masuk akal.
“ya abisnya, lo ngomong kaya tadi, yang bikin gue kaya abis jatuh dari lantai 41 tau! Seorang Franellia Lina Vestoria yang selalu semangat buat PULANG tiba-tiba jadi males pulang. Kata-kata yang langka keluar dari mulut lo. Masa’ iya ini aja lo juga lupa ???”
“hahaha, emang aku tadi ngomong gitu ??? masa’ sih, kok aku lupa ya?? Udah lah ga usah dibahas, nggak penting ini. Jalan aja yuuk
“Lo emang ratunya tega Ven. Gue aja sampe kaget, lo nya malah lupa, ah emang susah ya temenan sama lo, tersiksa luar dalem, gue” kataku yang menunjukkan bahwa aku udah kalah sama dia. Kesel sih, tapi buat sahabat tercinta apa sih yang enggak.
Ya aku sama Vena udah hampir 2 tahun sahabatan. Aku deket banget sama dia, tapi sebenarnya aku ga bisa dibilang deket juga sama dia, pasti jadi bingung ya. Ya gimana bisa dibilang deket, aku aja nggak pernah tau soal kehidupan pribadinya. Dan aku nggak pernah berani untuk menanyakannya lebih jauh karna aku takut menyinggung perasaannya. Biarlah itu menjadi sebuah rahasia jika memang dia tidak ingin aku tahu soal itu. Aku hanya ingin menjadi seorang sahabat yang baik untuknya. Dan jika aku ditaksidran untuk tau, pasti suatu saat nanti akupun akan tahu dengan sendirinya.
“Aku duluan ya
“iya Ven, gak papa kok. Aku bisa pulang sendiri. Kamu hati-hati ya!” balasku dengan sedikit berteriak karena dia berlari pelan menuju parkiran.
“Iya sayang, kamu juga. Dadah …” jawabnya. “Sayang” panggilan itu juga sering kita pakai, tanda kalau kita emang bener-bener saling sayang. Setelah Vena menghilang dibalik kepadatan sepeda motor, aku pun pulang naik taksi. Yaah, mau gimana lagi, nggak ada tebengan sih. Hehehe.
Sampai di rumah Vena langsung masuk kamar dan ternyata dia nggak jadi les. Dia bohong sama aku. Dibalik keceriaannya, ternyata dia sedang menyimpan suatu masalah besar. Ya MASALAH BESAR, dan dia nggak pernah cerita apa-apa ke aku. Mungkin aku yang nggak peka sama dia, atau dia yang terlalu enggan membagi masalahnya ke aku. Dan terpaksa aku harus tau, saat dia tiba-tiba pingsan saat upacara.
Pagi itu ada upacara bendera untuk memperingati Hari Pahlawan. Dan semua murid harus mengikutinya sampai selesai. Aku dan Vena pun dengan semangat melangkah ke halaman tempat upacara akan dilangsungkan. Tapi tiba-tiba saat bendera sedang dikibarkan, aku tertimpa oleh tubuh orang di samping kananku. Sontak, aku kaget. Ya, dia Vena. Vena PINGSAN ! oh tidak, kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan kayak gini, padahal sejak pagi, dia masih sehat. Tapi keadaannya sangat berbeda sekarang. Wajahnya pucat, bibirnya biru, dan oh tuhan badannya sangat panas.
Teman-teman yang baris di dekatku berkumpul dan berusaha menolongku mengangkat tubuh Vena yang lumayan berat. Dalam hati aku sangat khawatir melihat keadaannya itu. Bagaimana tidak, badannya sangat kaku, dan hidungnya pun mengeluarkan darah. Aku bingung harus gimana, aku kalut. Dibantu seorang petugas PMR kami mengangkat tubuh Vena dan membawanya ke ruang UKS. Aku menemani Vena di
Tak tahu kenapa justru setelah dia sudah sadar aku meneteskan air mata. Vena pun bingung melihatku. Dia bertanya padaku “
Salah, seharusnya aku yang menanyakan keadaannya lebuh dahulu. Aku pun mengusap air mataku dan menjawab pertanyaannya “Gue nggak papa kok Ven, lo tu yang kenapa ? Kok bisa pingsan gitu? Lo sakit ya Ven ? kenapa nggak ngomong sama gue, tau gitu
“lo
“iya sih, gue tadi khawatir banget sama lo. Tiba-tiba lo jatoh gitu aja” kataku sambil menghentikan tangisanku.
Semenjak kejadian hari itu, aku lihat Vena semakin lemah dan sering sakit-sakitan. Setiap aku tanya, dia pasti jawab dengan kalimat yang sudah mulai bosan kudengar “gue gak papa kok sayang, mungkin Cuma kecapekan aja, tenang aja ya Della”. Selalu itu yang jadi jawabannya. Yahh, mau gimana lagi, aku nggak mungkin maksa dia juga. Tapi aku selalu berusaha buat dia seneng dan selalu ngejagain dia. Sebisaku…
Sore itu, cuaca sangat buruk, hujan deras disertai angin yang lumayan kencang membuat keadaan gaduh dan mencekam. Petir-petir menyambar dan seperti ada yang sedang marah di atas
Paginya suasana tak jauh beda, walaupun langit tampak cerah, tapi entah kenapa lagi, hatiku terasa sangat gelisah, nggak tenang, selalu was-was. Vena tak kunjung memberi kabar. Sampai akhirnya, seorang remaja laki-laki seusiaku berjalan menghampiri rumahku. “Emm, bener ini rumahnya Della??” tanyanya langsung. “Iya bener, kamu siapa ?? ada apa ya ??” jawabku sambil balik bertanya. “Gue Vano, kakaknya Vena. Ikut gue sekarang. Penting !!” jawabnya sambil memaksaku ikut dengannya.
Disisi lain, aku kaget, dan teriak dalam hati APA ?? VENA PUNYA KAKAK?? SEJAK KAPAN ??? yah pertanyaan-pertanyaan itu seolah menghujamku. Tak bisa dipercaya kalau ternyata Vena punya saudara. Dan umurnya pun nggak jauh beda. Gila, selama ini dia sembunyi dimana. Oh Tuhan, kejutan apalagi ini. Aku terdiam, kaku, tak bergerak. Vano pun menarik tanganku dan lamunanku pun buyar. Vano menyeretku masuk kedalam mobilnya, dan aku mencoba berontak, tapi apa daya, genggamannya terlalu kuat.
Di dalam mobil dia menjelaskan semuanya tanpa aku bertanya. Mungkin dia tahu kebingunganku dari raut wajahku. Dan penjelasannya membuatku serasa ingin keluar dari dunia mimpi ini. Ya aku berharap ini semua hanya mimpi. Sahabat yang selama ini aku kenal periang dan tanpa beban ternyata dia menyimpan masa lalu yang sangat pahit. Dan dia terlalu kuat untuk menhadapinya SENDIRI. Ya benar-benar sendiri. Franellia Lina Ventoria, cewek pelupa yang manis, cantik, dan murah senyum ternyata hatinya dipenuhi banyak luka yang amat mendalam. Dia telah banyak disakiti oleh orang-orang disekitarnya. Sungguh manusia-manusia tak berperasaan. Orang sebaik Vena diperlakukan sangat kejam. Oh Tuhan, aku nggak sanggup mendengar semua ini. Aku ingin bangun dari mimpi buruk ini. Aku nggak kuat Ya Tuhan.
Air mataku mengalir deras, tak terbendung. Kenyataan hidup sahabat baikku yang amat mengiris hati. Kenyataan yang membuat orang yang paling aku sayang terbaring lemah di ICU. Ya, dia sekarang koma. Aku nggak kuat, aku pengen Vano bilang kalau dia bohong. Tapi itu fakta, fakta yang sangat kejam.
Sesampainya di rumah sakit, aku berjalan tanpa sadar. Aku mengikuti langkah orang yang baru saja membuatku jatuh, menelan kenyataan pahit. Aku pun duduk di sampingnya, menunggu laki-laki berbaju putih keluar dari ruang ICU dan berkata kalau Vena telah sadar. Aku hanya bisa menunduk diam. Walau air mataku tak lagi jatuh, tapi hatiku sakit, sangat sakit.
Selang beberapa jam, laki-laki berbaju putih yang daritadi kita tunggu, keluar dari ruangan tempat Vena berbaring. Vano sontak berdiri dan bertanya pada laki-laki tersebut “bagaimana keadaan adik saya dok??”. Dokter menjawab “maaf dik, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan adik anda, tapi penyakitnya sudah sangat parah dan sudah terlambat untuk melakukan penyembuhan, maaf sekali ya. Saya harap keluarga bisa sabar dan tabah menghadapi cobaan ini”.
Ya, laki-laki berbaju putih yang kami tunggu berjam-jam itu sudah keluar, tapi dia membuatku semakin ingin keluar dari sandiwara ini. Aku berharap dia masuk lagi keruangan itu dan tak pernah keluar jika dia hanya ingin mengatakan hal seperti itu. Aku benar-benar ingin bangun dari mimpi yang sangat buruk ini. Tak terasa kakiku mulai lemas, tak kuat lagi menopang tubuhku ini. Dan aku pun jatuh tak sadarkan diri.
Saat aku membuka mata, aku benar-benar ingin melihat sahabatku. Aku kangen sama Vena, aku pengen becanda lagi sama dia. “VEN GUE KANGEN SAMA LO, LO DIMANA???” teriakku dalam hati. Kaget bukan kepalang, aku melihat laki-laki itu lagi, Vano yang mengaku kakak Vena. Dan berarti ini semua nyata. Aku tidak sedang berada di alam mimpi. Perlahan aku mulai sadar, dan mencoba menerima keadaan ini dengan sabar. Tapi tetap saja hati kecilku tak bisa merelakannya. Pertemuan terakhirku dengan Vena begitu singkat, persahabatanku terjalin begitu cepat. Aku masih ingin bersamanya, menghabiskan waktu dan saling bercerita satu sama lain. Aku sangat menyayanginya. Aku tak ingin dia pergi sekarang. Tapi aku juga sadar takdir Tuhan tak ada yang tahu dan bisa mencegahnya.
Tapi semua ini tak adil, kisah hidupnya yang pahit. Orang tuanya yang tak pernah menganggap Vena sebagai anak. Ya, aku baru tahu, selama ini dia begitu tersiksa di rumahnya sendiri. Orang tuanya terlalu sibuk dan tak pernah memperhatikannya. Begitu berbeda dengan Vano, dia diperlakuakn bak seorang raja. Hanya karena anggapan Vena yang telah membuat ayah kandungnya sendiri meninggal. Sebenarnya bukan, kecelakaan itu takdir. Vena bukan penyebabnya. Dia tersiksa sepanjang hari. Sebenarnya Vano tak tega melihat hal itu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, karena semakin dia berusaha membela adiknya itu, maka Vena pun akan semakin disiksa oleh orang tuanya.
Vano pun memutuskan untuk tetap diam tapi dia juga sering membantu Vena secara diam-diam. Kenyataan hidup yang pahit. Pasti tak ada yang mengira, seorang Vena mempunyai pengalaman hidup sekejam itu. Aku meneteskan air mata lagi mendengar cerita Vano. Aku terlambat untuk mengetahui semuanya. Sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolongnya. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa agar Vena mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Walaupun ragamu tak lagi disisiku, aku tetap merasakan hangatnya kebersamaan itu. Aku masih menyimpan dengan baik semua kenangan kita sayang. Aku nggak akan pernah nglupain seorang sahabat sebaik kamu. Kamu tetap yang terbaik. Sekarang aku sadar mengapa Tuhan memanggilmu sekarang, karena dengan ini, kamu akan jauh lebih bahagia Vena. Aku selalu menyayangimu, lebih dari diriku sendiri. Salam rindu untukmu dan semoga bahagia selalu.
SELAMAT JALAN
♥♥♥FRANELLIA LINA VESTORIA♥♥♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar